"Humble"

Tanpa kerendahan hati, manusia takkan belajar apapun, selain kesombongan saat merasa dirinya sudah cukup baik, bijak, pintar. Ukuran menentukan ‘perasaan’ tersebut dapat dilihat saat menghadapi perubahan, lihat bagaimana reaksinya. Panik? Cemas? Takut? Jika YA, kita perlu merendahkan diri untuk belajar.

See More »

Your are here: Home / Share with Us

Hobbi Berbohong? Hmm..!

Share with Us | 0 Komentar

Minggu lalu saya mengkonseling satu orang yang diindikasikan terbiasa berbohong. Dalam pertemuan pertama dua minggu sebelumnya, tak ada satupun kejujuran yg disampaikan. Setelah dikroscek dengan atasannya, ternyata semua yang disampaikan diindikasikan bohong. Saat pertemuan kedua ia mengakui semua kebohongan tersebut dengan alasan tidak mau orang lain tahu masalahnya. Masalahnya saat saya tahu ia berbohong, saya justru memberinya ‘sanksi’, bukannya belas kasihan. Justru saya kasihan kepadanyalah maka saya beri sanksi untuk memikirkan dampak tindakan berbohong itu.

Ternyata bagi sebagian orang, berbohong dan menutupi kebenaran merupakan hal lumrah dengan alasan yang kadang sangat absurd dan tak masuk akal. Saat seseorang berbohong untuk menutupi suatu hal, maka ia menggunakan kebohongan untuk menutupi kebohongan. Semakin sering dilakukan, maka hal tersebut menjadi biasa sehingga mereka merasa wajar berbohong “demi kebaikan” –preeet!!!

Tanpa sadar saat orang berbohong, ia sedang menggali kuburnya sendiri. Parahnya lagi masih ada orang bebal yg saat jelas-jelas bohongnya ketahuan, ia mengelak dan menutupinya lagi dengan kebohongan yang lebih besar. So, siapa yang mau percaya dengan orang macam itu? Ia memampatkan rejeki dan masa depannya sendiri.

Pola asuh yang sejak kecil selalu dibenarkan oleh orang tuanya, dibiarkan saat melakukan tindakan yang melanggar aturan dan mungkin faktor lainnya, membuat saat besar ia tumbuh menjadi sosok yang tidak tahu apa itu salah. Repotnya lagi jenis orang ini sulit untuk sadar, kecuali sudah dipepet oleh akibat dari perbuatannya. Padahal saat orang berbohong, orang sesamanya mungkin tidak tahu; tapi ia lupa bahwa ada Pribadi Maha Tahu. Dan ia tidak takut kepada Sang Maha Tahu, tapi lebih takut kepada manusia. Jadi buat apa beribadah kepada Sang Maha Tahu?

Mari koreksi diri, siapa dalam hidup ini yang kita takuti?
Kepada yang bisa membunuh tubuh tapi tidak berkuasa membunuh jiwa;
atau kepada DIA yang berkuasa membinasakan jiwa maupun tubuh?

(ysw) soulartist 

Sumber Foto: bintang.com

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

About Us

New Comments

cantik ????...
Nama: mama rempong di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

Good......moga sukses slalu...
Nama: Rhychy di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

I love you sexy lady ... ????...
Nama: Mary di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

Contact Us