"Humble"

Tanpa kerendahan hati, manusia takkan belajar apapun, selain kesombongan saat merasa dirinya sudah cukup baik, bijak, pintar. Ukuran menentukan ‘perasaan’ tersebut dapat dilihat saat menghadapi perubahan, lihat bagaimana reaksinya. Panik? Cemas? Takut? Jika YA, kita perlu merendahkan diri untuk belajar.

See More »

Your are here: Home / Share with Us

Manusia Gratisan

Share with Us | 0 Komentar

Pada dasarnya manusia senang dengan yang namanya gratis.

Mumpung gratis mereka akan mengambil sepuasnya tanpa memikirkan orang lain, padahal setelah diambil, tidak semua dibutuhkan. Namanya juga manusia, tidka pernah puas, diberi gratis juga kalau barangnya tidak sesuai selera, cenderung disia-siakan (biasanya yang gratis cenderung kurang dihargai)

Saya ibaratkan sama seperti otak di dalam tempurung kepala manusia, pemberian gratis Sang Khalik, yang kadang saya jumpai masih banyak yang orisinil. Saya gemas bingit dengan manusia yang sangat memelihara otaknya dengan tidak mau belajar, merasa diri sudah cukup, kemudian berdalih usia. Pernah seorang berusia 35 tahun berkata ia sudah terlalu tua untuk belajar; saat saya tunjukkan KTP saya, ia cuma tersenyum menyebalkan penuh malu.

Manusia gratisan memang tak tahu diuntung, sudah diberi otak gratis, nafas gratis, semua serba gratis, tapi tak mau memelihara. Tak heran akhirnya ia menjadi tidak percaya diri karena isi tempurung kepalanya cenderung hampa udara. Lha kalau otaknya kosong mau bicara apa? Lalu beralasan lagi bahwa pendidikannya rendah. Semua serba disalahkan untuk mengamankan otaknya agar tetap kosong.

Manusia gratisan selalu membuat saya merasa tertantang sekaligus menyebalkan karena begitu –maaf- bebalnya. Padahal kalau ia pintar, masa depan miliknya sendiri. Kalau ia bodoh, takkan ada orang yg terlalu baik hati membantu memapah berjalan ke masa depan.

Manusia gratisan tak pernah puas, tapi ia merasa puas dengan kekosongan otaknya. Yang ada dalam pikirannya hanya uang, uang dan uang. Padahal ketika otaknya sangat berisi dan aus akibat belajar, promosi jabatan (dengan segala konsekuensinya) akan mengikuti, dimana akhirnya uanglah yang mengejar kehidupannya. Pilihannya, memelihara otak tetap orisinil / membuatnya aus sehingga Sang Khalik bangga bahwa ‘barang gratis’ yg IA beri benar-benar dimanfaatkan sang manusia.

Semoga tulisan ini tidak mencerminkan yang sedang membaca. (ysw) soulartist

Sumber foto: www.dailymoslem.com

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

About Us

New Comments

cantik ????...
Nama: mama rempong di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

Good......moga sukses slalu...
Nama: Rhychy di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

I love you sexy lady ... ????...
Nama: Mary di Adell Si Cantik Yang Penuh Percaya Diri

Contact Us